30 November 2024 - 12:16
Kami Ucapkan Terima Kasih kepada Ayatullah Khamenei, Rakyat Iran, dan Pasukan IRGC

Sekretaris Jenderal Hizbullah dalam pidato pertamanya setelah gencatan senjata di Lebanon mengatakan bahwa kerugian yang dialami rezim Zionis dalam perang sangat besar dan musuh telah telah menderita kekalahan karena keteguhan perlawanan.

Menurut Kantor Berita Internasional Ahlulbait - ABNA - Syaikh Na'im Qasim Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, untuk pertama kalinya setelah gencatan senjata antara Lebanon dan rezim Zionis menyampaikan pidato resminya di televisi.

Syaikh Na'im Qasim di awal pidatonya, kepada rakyat Lebanon berkata: "Anda telah bersabar dan berjihad, anak-anak Anda berjuang di lembah-lembah melawan musuh, untuk menghancurkan musuh ini, kita bersyukur kepada Allah, bahwa kesabaran membuahkan hasil. Kami telah berkali-kali menegaskan bahwa kami tidak menginginkan perang tetapi kami mendukung Gaza dan jika rezim pendudukan memaksakan perang kepada kami, kami siap untuk menghadapinya. Dukungan untuk Palestina tidak akan berhenti dan akan terus berlanjut dengan berbagai cara."

"Agresi rezim Zionis sangat berbahaya dan menyakitkan dan kami pada awal agresi ini hampir selama 10 hari mengalami kebuntuan sementara. Namun setelah itu Hizbullah membangun kembali kekuatan dan kemampuannya dan sekali lagi menghidupkan sistem kepemimpinan dan komandonya dan berdiri teguh di medan perang." Tambahnya.

Syaikh Naeem Qassem menegaskan: "Hizbullah menargetkan front dalam negeri rezim Zionis dan kerugian rezim ini sangat besar. Ratusan ribu orang di utara Palestina yang diduduki menjadi pengungsi dan musuh terjebak karena ketahanan perlawanan. Ketahanan legendaris para pejuang perlawanan membuat tentara penjajah merasa takut dan para politisi serta pemukim Zionis putus asa. Salah satu tanda-tanda kekalahan musuh adalah kembalinya rakyat kami ke rumah mereka dan tidak kembalinya pemukim Zionis ke wilayah front lawan."

"Kami pada awalnya tidak menginginkan perang, tetapi kami memaksakan akhir perang ini dari posisi kekuatan dan dengan membakar rezim Zionis. Kami meraih kemenangan yang lebih besar dalam pertempuran ini dibandingkan dengan kemenangan tahun 2006. Kami setuju untuk menghentikan perang sementara kami telah menang dan merasa terhormat. Kami menang karena kami telah mencegah musuh dari menghancurkan Hizbullah dan mengakhiri perlawanan, serta memaksa mereka untuk membenarkan penerimaan kesepakatan." Lanjutnya.

Ia menekankan: "61 persen orang Israel mengakui bahwa mereka tidak menang dalam perang. Kekalahan meliputi rezim Zionis dari segala arah. Kesepakatan gencatan senjata bukanlah sebuah perjanjian, melainkan program pelaksanaan terkait dengan resolusi 1701 Dewan Keamanan. Koordinasi antara perlawanan dan tentara Lebanon untuk melaksanakan persyaratan kesepakatan akan berada pada tingkat yang tinggi. Pandangan kami terhadap tentara Lebanon adalah bahwa komando dan anggotanya bersifat nasional dan berada di tanah yang merupakan milik kedua belah pihak kami."

Syaikh Naeem Qasim lebih lanjut berkata: "Kesepakatan gencatan senjata di bawah naungan menjaga kedaulatan Lebanon telah dicapai dan kami setuju dengan itu sambil tetap mempertahankan hak untuk membela diri, kami merasa bangga. Kami menghargai dan bangga kepada para pejuang perlawanan di lapangan karena mereka berdiri di puncak jihad dan telah memberikan makna kepada kemurahan hati dan kedermawanan. Kami juga menghargai para pemimpin dan komandan besar serta syuhada kami, terutama syahid Sayyid Hassan Nasrallah yang telah memudahkan jalan kemenangan dan jalan kekuatan serta kehormatan bagi kami, dan juga sahabat dan pendukung jalannya, syahid Hashim Safi al-Din. Kami mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Nabih Berri, negosiator politik perlawanan, serta Perdana Menteri Najib Mikati. Kami mengirimkan salam kepada para syuhada Angkatan Bersenjata Lebanon dan tenaga medis serta pertahanan sipil yang telah beraktivitas di lapangan. Kami juga menghargai gerakan Amal yang merupakan satu jiwa dalam dua organisasi."

Sekretaris Jenderal Hizbullah dalam bagian lain dari ucapannya menambahkan: "Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan rakyat Iran, terutama Imam Khamenei yang mendukung perlawanan, serta kepada Pengawal Revolusi. Kami juga menghargai kepemimpinan dan rakyat Yaman, terutama Yang Mulia Abdul-Malik Badreddin al-Houthi, serta Irak yang kokoh, termasuk otoritas agama, Hashd al-Shaabi, dan rakyat negara ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada kepemimpinan dan rakyat Suriah atas dukungan mereka terhadap perlawanan.

Dia menyatakan: Kami di tahap berikutnya akan memulai rekonstruksi negara bersama rakyat Lebanon. Sesuai dengan pelaksanaan janji syahid Sayyid Hasan Nasrallah, kami akan membangun kembali Lebanon lebih indah dari sebelumnya. Kami berkomitmen untuk menyelesaikan proses pembentukan lembaga-lembaga hukum, dengan pemilihan presiden sebagai prioritas pada waktunya. Kami akan bekerja sama dan berdialog dengan semua kekuatan yang ingin membangun Lebanon yang utuh dalam kerangka kesepakatan Taif.

Sheikh Na’im Qasim juga mengatakan: Perlawanan dalam perang telah membuktikan bahwa ia siap, dan program yang telah ditetapkan oleh syahid Sayyid Hasan Nasrallah adalah efektif dan mempertimbangkan semua perkembangan.